(Lagi) tentang Ayat-Ayat Cinta
Prediksi itu terbukti benar adanya. Hingga 9 maret kemarin, yang berarti sepuluh hari sejak penayangan perdana pada 28 februari lalu, film ayat-ayat cinta (AAC) kini telah ditonton oleh lebih dari 1,5 juta penggemarnya. Untuk ukuran film indonesia, sebuah angka yang fantastis bukan? Film bikinan MD Entertainment itu akhirnya mendapatkan hasil yang sepadan, bahkan akan lebih, mengingat waktu penayangannya yang dijadwalkan baru akan berakhir pada 28 april 2008 diseluruh jaringan bioskop 21 yang ada diindonesia. Dan sepertinya eskalasi audience kemungkinan besar masih akan terus bertambah hingga akhir penayangannya nanti.
Melihat data diatas, estimasi perputaran uang sementara yang terjadi untuk AAC ini ada pada kisaran 40 milyar rupiah. Memang masih kalah jauh bila dibandingkan dengan pendapatan film box office versi Hollywood, atau Hongkong bahkan India sekalipun, yang sudah bergerak di kisaran angka trilyunan rupiah. Namun angka sebesar itu didapat dengan menayangkan filmnya diseluruh penjuru dunia. Barangkali kalau AAC juga ditayangkan secara universal, bisa jadi pendapatan trilyunan juga bisa didapat
Contoh fenomena AAC diatas menunjukkan bahwa semua pengorbanan segala pihak yang terlibat tidaklah sia-sia. Pekerjaan yang profesional dihargai setimpal. Dan ini semakin memberi harapan baru bagi perkembangan dunia sinema indonesia. Masyarakat merindukan film indonesia yang berkualitas. Masyarakat sudah jenuh dengan keberadaan film yang saat ini tidak jauh dari tema horor maupun mistis. Lihatlah penayangan Hantu Ambulance yang berjarak hanya 4 minggu sebelum AAC naik tayang. Barangkali produser film itu hanya bisa menyesali waktu penayangannya yang sangat dekat, hingga membuat filmnya Suzana ini kosong melompong ngga ada yang nonton. Itulah sebuah resiko bisnis entertainment, kalau tidak bisa me-manage emosi penonton akan dipastikan gulung tikar. Sebuah pelajaran yang berharga tentunya.
Selain itu, fenomena AAC juga akan memberikan peluang yang besar bagi perkembangan dunia tulis-menulis kita. Profesi penulis akan semakin dihargai. Orang muda kita akan lebih terpacu dan tidak ragu lagi untuk terjun dalam dunia pena ini. Tidak takut bahwa dunia menulis tidak dapat memberinya penghidupan. Sebuah pengharapan yang tidak berlebihan kiranya. Dengan kesuksesan Habibbur el Shirazy -sang penulis novel AAC- diharapkan dapat memberi motivasi buat penulis yang lain untuk lebih produktif menelurkan karya-karya sastranya. Andrea Hirata salah satunya. Sang pendekar Belitong, si penulis novel laskar pelangi sepertinya juga akan mengikuti jejang Kang Abik-panggilan sehari-hari habibbur- bahwa novelnya juga akan diangkat dalam layar lebar. Kita tunggu saja realisasinya
Yahhh….bola salju itu baru saja digulirkan, lalu akan bergerak kemanakah dia? ke depan, ke belakang, ataukah ke samping. Atau malah akan stagnan lagi. Entahlah….biarkan waktu yang akan menjawabnya, dan kita semua yang menjadi saksi sejarah. Namun apapun itu, semoga saja akan membuat bangsa ini menjadi jauh lebih bermartabat
Loading...
untuk keterbatasan budget dan hasil nya, saya pikir… para pendukung film AAC pantas diberi acungan jempol
walaupun saya tetap kehilangan aura kemegahan dan keindahan novel karya kang abik itu dalam film itu.
icozya - March 11, 2008 at 11:30
jadi semakin tersemangati menjadi penulis?
nonton ra?
tony - March 11, 2008 at 15:40
selain novelnya yang memang bagus banget, marketingnya oke, dan momennya dapat…
lagi nunggu laskar pelangi on movie neeh.
mybenjeng - March 12, 2008 at 2:35
IMHO:
AAC patut dihargai. Banyak keterbatasan yang harus diatasi dengan kompromi.
Semoga next movie bisa lebih mengungkapkan idealisme kang abik
(atau siapapun penulisnya).
Dan tidak berhenti hanya sebatas menjual romantisme (yang sudah jadi pakem umum di TV) .
dadan - March 12, 2008 at 17:13
Bos,
settingan jam di wordpress ente kayaknya rada teler..
sebelumnya saya comment 13 Maret 00:13
eh, malah nongol waktu commentnya 12 Maret 5:13pm
dadan - March 12, 2008 at 17:17
@Dadan : thx atas koreksinya, maaf atas ketidaknyamanan ini
agus rest - March 13, 2008 at 7:29
[...] banyak orang berpendapat tentang Ayat-Ayat Cinta ada, ada yang kurang berminat, ada yang mencatat jumlah penonton dan pendapatan film AAC, ada yang beranggapan film ini mengandung kontroversi, lebih bagus film lain, tanpa [...]
AADAAC (Ada Apa Dengan Ayat-Ayat Cinta) ? « m2s blog - March 13, 2008 at 7:51
film ini sarat dengan kritikan bagi yang berpoligami bahwa susahnya untuk adil kecuali pada jaman rosul yang istri2ny lebih tua (nenek) tapi sekarang malah banyak yang berpoligami dengan daun muda jadi yaaaaaaaaaa rada susah untuk adil karena msh dilandasi oleh nafsu, ari jaman nabi mah krn cinta kepada allah…yatoh???
jerry - March 13, 2008 at 16:41
Assalammualaikum brother
*salaman* sek,salam kenal
Waduh jadi sungkan…sorry nich sebelumnya.Baru sekarang bisa bales *salaman’e* mas agus
sorry ya mas.
sekalian dech biar agak tambah akrab,kasih comment dikit
hm…apa,ya!gini dech klo menurutku lho mas…banyaknya orang yg menonton AAC on the movie tu justru karena sesudah baca novelnya(termasuk saya)dan kita (kitaaa???…kamuuu ajaaa kaleee *katanya ruben disalah satu acara di TV swasta yg ga jelas inti acara apaan*) nonton AAC tu untuk membandingkan seberapa bagus filmnya,apakah sebagus novelnya.
dan banyak hal-hal lain yg jadi tujuan pembanding sehingga mau nonton film AAC itu!
“fahri di film tu gimana?”
“aishanya tu gimana sich?”
tapi mungkin(mungkin lho yaaa!!!) bagi orang yg menonton karena tertarik sesudah baca novelnya pasti kecewa…karena gak sebagus di novelnya!!!karena memang sulit sich memvisualisasikan ide seseorang!
sky1988 - March 14, 2008 at 21:07
Assalammualaikum brother
*salaman* sek,salam kenal
Waduh jadi sungkan…sorry nich sebelumnya.Baru sekarang bisa bales *salaman’e* mas agus
sorry ya mas.
sekalian dech biar agak tambah akrab,kasih comment dikit
hm…apa,ya!gini dech klo menurutku lho mas…banyaknya orang yg menonton AAC on the movie tu justru karena sesudah baca novelnya(termasuk saya)dan kita (kitaaa???…kamuuu ajaaa kaleee *katanya ruben disalah satu acara di TV swasta yg ga jelas inti acara apaan*) nonton AAC tu untuk membandingkan seberapa bagus filmnya,apakah sebagus novelnya.
dan banyak hal-hal lain yg jadi tujuan pembanding sehingga mau nonton film AAC itu!
“fahri di film tu gimana?”
“aishanya tu gimana sich?”
tapi mungkin(mungkin lho yaaa!!!) bagi orang yg menonton karena tertarik sesudah baca novelnya pasti kecewa…karena gak sebagus di novelnya!!!karena memang sulit sich memvisualisasikan atau bayangan seseorang!
oia mas lain kali kirim2 comment ya ke Blogku
ajak temen2ne sampean juga ya
sky1988 - March 14, 2008 at 21:09
@ sky 1988
hmm,, memang ndak bisa dibandingin novel dengan filmnya.. kalau buat aku–yang seorang penggemar novel–emang lebih asyik baca novelnya.. tapi filmnya ndak mengecewakan kok.. apalagi ada bagian-bagian yang lebih “mengena” di film daripada di novelnya..
@ jerry
poligaminya coz terpaksa kok, pak.. huehe.. demi menyelamatkan orang lain dan dirinya sendiri,, istilahe dalam keadaan darurat gitu..
@ author
udah nonton filmya, pak..?! huehe..
anginbiru - March 15, 2008 at 22:33
ferdi nuril cakep uey…tipe gue banget:)
lina - March 17, 2008 at 20:27